Jumat, 21 Januari 2011

Pesan Offline Yang Mungkin Sangat Bermakna ^__^

Hari ini Jum'at tepatnya tgl 21 Januari 2011, kaget juga gue buka komputer kantor biasalah yang pertama terbuka adalah Yahoo Messanger hehehehe tp ada pesan offline disana yang isinya bikin gue mikir juga, begini isinya :


  • 11:03 PM
    1/20
    idah lo kan lagi tar klo baca ini di save aja klo suka klo ga dibuang


  • 11:03 PM
    Terkadang seseorang akan selalu ada di hatimu, meski tidak dalam hidupmu. Biarkanlah, tapi jangan sampai mengusik jalan hidupmu


  • 11:08 PM
    Hidup ini pilihan, apapun yg membuatmu sedih, tinggalkan. Dan apapun yg membuatmu tersenyum, dekaplah. Bijaklah dalam memilih!


  • 11:10 PM
    Lupakan dia yg pernah tinggalkanmu demi yg lain. Meski cinta, jangan biarkan dirimu kembali sakit tuk alasan yg sama


  • 11:13 PM
    Cinta sejati itu ada, namun jika pada akhirnya harus berpisah, itu hanya karena Tuhan ingin kamu bersama seseorang yg lebih baik.


  • 11:15 PM
    gw email aja ya


  • 11:15 PM
    kebanyakan neh


  • 11:15 PM
    biar lo muntah2 ahahahahaha


  • 11:37 PM
    tapi peluk ko..


  • 11:38 PM
    Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang tuk sebuah alasan dan memisahkan kita tuk sebuah alasan yg lebih baik


  • 11:38 PM
    dah ah


  • 11:38 PM


  • 11:38 PM
    selamat bermuntah2 

    Pengen ketawa tapi emang harus gue pikirkan lagi apa yang sahabat gue tulis ini karena memang sangat bermakna banget apa yang dia tulis, terus terang gue paling enek plus mau muntah klo dia udah berikan gue kata-kata bijak kayak gini habis gue pikir itu hanya kata-kata hiasan yang cuma bermakna sementara tapi untuk kali ini gue akan coba pikirkan baik-baik apa yang ditulis secara offline dari Sahabat terbaik gue ini.
    Thanks Anty....makasih buat semuanya meskipun gue selalu menjadikan lo sebagai korban ejekan gue untuk gue ledekin hehehehe (pisss...) tapi kadang2 lo adalah orang yang bikin gue semangat untuk menyelesaikan masalah yang gue hadapi ^_^ makasih yang sobat, terima kasih atas semuanya....(pelukk....)

  • Jumat, 14 Januari 2011

    Jika Aku Jatuh Cinta...Salah Siapa????

    Jika aku jatuh cinta dan sakit karenanya…

    Lalu..salah siapa??

    Ketika aku telah menyandarkan hati

    Dan dia meninggalkanku pergi..Lalu, salah siapa??

    Marah hati ini, sakit jiwa ini...

    Begitu saja kau tinggalkan aku

    Padahal susah senang kita lalui bersama dulu...


    Membaca kalimat demi kalimat di atas, mungkin teman-teman bisa menyimpulkan sendiri, bagaimana perasaan sang penulis ketika menggoreskan penanya. Ya, rasa marah, benci, sakit hati, karena ditinggal pergi sang pujaan hati. Menggelikan memang, ketika mendengarkan curhatan teman yang patah hati, begitu menggebu-gebu, makan tak enak, tidur tak nyenyak,jantungpun serasa berhenti berdetak (hehehe..lebay). Namun, belum tentu kita juga bisa tegar berdiri ketika kita mengalami hal yang serupa.


    Bicara patah hati, tak lepas dari masalah cinta. Yah..cinta, sayang, suka kepada lawan jenis dan menginginkan orang yang dicintainya itu menjadi milik kita. Tak seorangpun selain dirinya yang di pinta. Cinta memang sangat indah. Fitrah dari sang Khalik yang membuat hidup manusia penuh warna. Namun rasa yang indah ini, jika tidak dibingkai dengan hati-hati hanya akan menimbulkan tangis dan luka saja.


    Baik perempuan ataupun laki-laki, cinta bisa menghinggapi mereka kapan saja. Mulai dari pandangan pertama (in the first sight), karena kebiasaan (witing tresno jalaran saka kulina), berawal dari permusuhan (benci tapi rindu), atau bertemu kembali teman lama (CLBK). Namun sayangnya, mereka sendiri pun tak tahu kapan cinta itu bisa tetap singgah di hati mereka. Cinta ibarat kutu yang meloncat dari hati ke hati, menggetarkan jiwa host yang dihinggapi kemudian meninggalkannya pergi.Oleh karena itu, tak heran jika manusia dengan mudahnya berpindah ke lain hati.


    Mencintai orang lain di saat kita telah memiliki seseorang di dekat kita itu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun, Allah tak membiarkan manusia hanya diperbudak nafsu dan cinta, Dia lalu memerintahkan untuk ”menikah” ketika seseorang mencintai lawan jenisnya. Komitmen dalam pernikahan itulah yang menunjukkan bahwa hidup bukanlah hanya untuk mengumbar cinta semata. Namun, sayangnya, komitmen ini disalahgunakan, dipermak sedemikian rupa sehingga banyak istilah bermunculan seperti pacaran, tunangan, dan lain-lain yang nota bene semua itu hanyalah mengikuti nafsu yang tak mau menunggu dengan sabar.


    Bagi seorang wanita, menjaga malu sangatlah penting. Dengan malu, wanita lebih bisa menjaga dirinya. Ketika wanita jatuh cinta, wanita dengan mudahnya menyerahkan jiwa raga untuk yang dicintainya. Itu dikarenakan wanita lebih mengedepankan rasa ketimbang logika. Mereka tidak memikirkan bagaimana nantinya, apakah orang yang dicintainya itu serius dengannya atau hanya ingin mempermainkannya saja. Mengambil kesempatan dan mengatas namakan cinta.

    Tapi untunglah, Islam begitu sempurna. Islam mengetahui bahwa wanita susah untuk berlogika, oleh karena itu islam mengajarkan seorang wanita harus dibekali dengan ilmu dan iman. Dengan ilmu, wanita tak mudah diperdaya, dapat mengasah logika. Dan dengan iman, wanita tidak selalu mengedepankan perasaan.


    Islam begitu melindungi wanita dengan mengharamkan pacaran. Selain mendekati zina, pacaran juga dapat menyudutkan wanita dan membuat kehormatan wanita tidak berharga. Bayangkan saja, dengan komitmen pacaran, tunangan yang tidak jelas kelanjutannya, sang wanita mau diajak kemana-mana, runtang-runtung, makan, main bersama. Lalu setelah itu sang lelaki meninggalkannya ketika ada bunga yang lebih bagus darinya.


    Marah, kecewa, sakit hati, benci, dan memaki-maki. Tentu itu yang akan dilakukan sebagai wanita. Menyalahkan dan meratapi mengapa ada laki-laki yang setega itu membohongi dan mempermainakn mereka. Padahal jika mau mengintrospeksi lebih lanjut, hal itu juga dikarenakan salah mereka sendiri. Salah siapa yang mau diajak kemana-mana, salah siapa yang mau diikat dengan janji kata-kata semata. Dan salah siapa??Andai..dan andai, sedikit saja wanita dapat menjaga diri dan bersabar. Banyak keuntungan yang dapat mereka dapatkan, mereka dapat mengaja kehormatan dirinya tanpa menimbulkan fitnah, tak ada rasa malu kepada tetangga karena tak ”jadi” dengan pacarnya, selain itu wanita juga dapat menyeleksi dan menguji lelaki mana yang benar-benar mencintainya, setia, dan serius dengannya. Lelaki seperti predator alami, akan mendekat saja ketika ada lampu hijau menyala dan feromon sang betina dilepaskan. Mungkin tidak semua, tetapi kebanyakan tak ada rasa bersalah meninggalkan pasangannya. Walaupun mereka sering gonta-ganti pacar, di dalam nurnai,laki-laki ingin wanita yang suci dan tak terjamah oleh siapapun. Nah, itulah hebatnya lelaki..Tak mau sediri, ingin ditemani, tetapi menginginkan wanita yang suci. Jadi, untuk para wanita, sekarang kita bisa memilih sendiri kita ingin dijadikan teman saat sepi, atau ingin dijadikan sebagai seorang istri???


    Tapi...kan tidak semua pasangan seperti itu, buktinya di sinetron ”cinta fitri” Farel juga hanya mencintai Fitri. Yah...itu contoh sempurnanya. Tapi dalam kehidupan nyata, cinta tak sesempurna itu, pengkhianatan adalah hal yang biasa. Tak ada yang tahu, pasangan kita saat ini jodoh kita atau tidak. Tak ada yang tahu sampai kapan pasangan kita mencintai kita. Tak ada yang dapat mebuktikan cinta, selain waktu dan keseriusan. Sabar menunggu waktu itu tiba, dan dengan serius menjalaninya di ikatan pernikahan.


    Menikah sendiri juga berdasar kemantapan dan kecocokan, bukanlah bermodal cinta. Cinta bisa dipupuk dan disiram ketika hati kita telah yakin dan mantap dengan pilihan kita, baru kita mencintainya. Yakin dan mantap pasti bisa berwujud cinta, tetapi cinta belum tentu membuat yakin dan mantap.


    Lalu, jika memang ikatan pernikahan adalah ending dari cinta dan jodoh, tapi mengapa saat ini banyak orang bercerai?Bukankah mereka telah menikah??tapi mengapa masih bisa berpisah??Jika seperti itu ada baiknya kita menilik kembali latar belakang mereka menikah. Hanya untuk saling memiliki karna takut kehilangan, atau karena ibadah??Wallahualam, hanya Allah yang tahu apa yang akan Dia gariskan. Ikuti saja garisNya, karena Dia akan membawamu ke jalan yang benar. Jangan mendahuluiNya dengan menetapkan seseorang itu adalah jodoh kita. Dialah sutradara yang ternama, Dialah peramal yang paling handal. Apa yang dijanjikanNya pastilah benar, dan jika kita menurut kepadaNya pasti akan bahagia. Lalu, apalagi yang akan kita dustakan???Tinggal kita pilih. Sabar sebentar dan bahagia selanjutnya. Atau menjalani sesuatu yang tak tau bagaimana rimbanya. Hidup ini pilihan kawan. Apapun pilihannya, semua itu pasti ada konsekuensinya. Jadi, jika aku jatuh cinta dan sakit karenanya??Siapa yang harus ku salahkan???Salahkan diri sendiri. Yang tak bisa menjaga diri, yang tak bisa sabar menunggu janji indah dari Sang Pencipta hingga waktu itu tiba..


    sumber:
    http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-jika-aku-jatuh-cintasalah-siapa-/486819866041

    Kamis, 13 Januari 2011

    Cinta datang Memang Tak Perlu Diundang ^_*


    "Kita Tidak Pernah Tahu, Kapan Rasa itu akan Datang??"

    pertanyaan itu yg terus terlintas di otak gue selama 2 (dua)  hari ini "cinta", Allah Maha Kuasa atas smua yang DIA kehendaki jika memang DIA mau itu terjadi maka terjadilah "kun fayakun", karena Allah Maha Segalanya maka jika itu sudah menjadi kehendakNya, kita tidak bisa berpaling dari kehendakNya.


    Cinta selalu datang tak terduga. Kamu bisa jatuh cinta pada orang yg tak terduga, pada waktu yg tak terduga. Mungkin kalimat itu yang pas saat ini dengan apa yang gue rasakan :P, gue terlalu meremehkan rasa itu dan gue pikir malah bisa mengendalikannya karena gue selalu berpikir dengan logika dan gue akui logika gue lebih besar dari perasaan gue hehehe....^_^


    Dan Maha Besarnya Allah, Dia membuat gue menangis hanya karena rasa itu, Subhanallah...
    Dan gue bersyukur karena rasa itu juga hidup gue lebih baik dan semakin baik.
    Gue percaya jodoh tidak akan kemana-mana,
    Dimana lo mencarinya dan mengejarnya jika Allah tidak memberikan jodoh itu,
    semua itu hanya rangkaian kehidupan yang memang harus lo jalani,
    karena itu serahkanlah jodohmu kepada Allah karena dia Maha Mengetahui apa yang paling terbaik buat hambanya.


    Kesempatan mencintai & dicintai tak datang 2 kali, jangan biarkan lepas dari hati tetapi Ketika segala hal tak berjalan seperti yg kamu inginkan, bersabarlah. Berhenti berusaha tuk mendahului Tuhan. Percaya padaNya!

    Selasa, 04 Januari 2011

    Kuatkan Aku, Ya Allah......

    Hari ini adalah hari pertama kerja di tahun 2011 karena kemarin gue ambil cuti di akhir tahun. Berangkat kerja hari ini penuh dengan semangat menyongsong tahun yang baru tapi memang dari berangkat gue berasa hati ini gak tenang alias deg-degan, gak ngerti kenapa sebabnya.

    Entahlah gue yang lagi melo atau emang mulai cengeng tak sekuat dulu, hari ini gue menangis lagi untuk kedua kali ditempatkan di fungsi/direktorat ini. Janji yang gue ucapkan untuk tidak mengeluh itu telah retak dengan air mata yang gue tumpahkan di toilet sore ini. Gue ngerasa gak dihargai atau lebih tepatnya memang ditiadakan kali ya, lucu dan cengeng, gak dewasa atau apalah tapi itu yang gue rasakan saat ini. Dimana gue yang dulu kuat sekuat baja yang diapa2in orang tidak pernah menangis dan tidak pernah peduli, Dimana gue yang dulu berontak disaat dia tidak merasa gak suka sama orang itu, Dimana gue yang dulu??

    Memang masalah kecil tapi entah kenapa perasaan gue terlalu besar mengganggap ini adalah hal sepele tapi gak bisa disepelekan, Berawal dari perubahaan struktur jabatan organisasi yang berubah maka ada pemberlakuan Surat Keputusan baru mengenai jabatan dan pejabat yang ditempatkan dan kebetulan lagi gue adalah sekretaris yang mengecek SK tersebut sebelum ditandatangani oleh bos gue secara memang harus melalui gue, tapi apa yang gue lihat dan gue baca serta cek?? nama dan jabatan gue tidak ada? gimana mungkin sebuah jabatan yang seharusnya berada di atas tetapi malah ditiadakan?? masa jabatan itu bisa dilupakan sedangkan gue yang mengoreksinya dan apakah mungkin hanya karena lupa?? pake logika itu udah gak sampai??

    Saat itu gue hanya lucu tapi di hati berasa banget gondoknya maksudnya apa?? mereka gak terima gue pindah ke direktorat ini? atau memang mereka menginginkan gue dipindahkan lagi (ooh gue sangat mengharapkan itu), dan gue bersikap cuek serta gue ceklah ke konseptor yang membuat SK dan mereka hanya menjawab "Maaf ya mba, lupa saya masukannya ke dalam SK tetapi di SAP udah ada kok udah masuk jadi gak masalah" dalam hati Ya Allah apakah mereka tidak memikirkan perasaan orang dengan santai dan tertawanya mereka bilang seperti itu dan beberapa menit kemudian si konseptor telp gue untuk bilang bahwa udah mau diganti SKnya dan dia telp dari bagian SAP?? saat itu pikiran gue langsung berpikir negatif "hallo tadi bilangnya udah diperbaiki di SAP tetapi kenapa tlpnya dari SAP ya?" Ya Allah gue bingung banget berada di direktorat ini...

    Maafkah aku ya Allah yang tak bisa menepati janjinya untuk TIDAK MENGELUH tapi aku udah menangis 2 kali di direktorat ini hanya karena permasalahan yang sama, Ya Allah Kuatkah aku jika memang ini yang terbaik bantu aku untuk tidak menangis lagi dan lagi......

    Aku hanya manusia biasa yang punya perasaan bantu aku tabah dan KUATKAN AKU, YA ALLAH.....

    Senin, 20 Desember 2010

    Muhasabah??

    Sebulan ini ini gue emang lagi dibatas emosi yang gak sewajarnya, karena gue ngerasa diri gue bertolak belakang banget sama diri gue yang sebenarnya dan kemungkinan ini pun terjadi sama diri gue dengan masalah-masalah yang ada disekitar gue terutama dengan masalah kerjaan di kantor.

    Entah kenapa yang selama ini gue bisa menghadapi masalah apapun itu dapat gue lewati dengan baik, sebulan ini ternyata malah gue menghadapi masalah di kantor dengan sangat-sangat tidak baik sampai-sampai sabar gue pun jadi taruhannya malah gue kasih ungkapan "Sabar"nya harus masuk UGD alias ICU dan harus dirawat inap karena sudah gak bisa sehat seperti biasanya (hehehe...sampe gue update di status fb dan bnyk tmn-tmn gue kasih komentar bahwa gue yg sakit wkwkwkwk padahalnya yg sakit cuma "sabar" yang ada di diri gue aja :P)

    Sebenarnya klo dicermati masalah yang terjadi sama diri gue hanya bisa diatasi dengan sabar ternyata memang sabar gue belum bisa dikendalikan alias gak pernah bisa sabar.

    Akhir tahun ini memang terlalu berat untuk dijalani tapi tetep harus dijalani :D semangattt!!

    Muhasabah....???
    Baru kemarin gue ikutan muhasabah di puncak cisarua yang diadakan oleh BDI Pertamina, entah kenapa juga gue selalu kepengen ikutan acara seperti ini hehehe....awalnya dimulai tahun lalu dengan ikutan secara dadakan tapi hasilnya ternyata menentramkan hati jadi kenapa gak klo tahun ini juga ikutan dengan kesadaran diri ^_^


    Muhasabah itu artinya koreksi diri, disana bukan hanya untuk meratapi kesalahan diri kita tapi harus mengoreksi diri kita apa yang telah kita lakukan dan bagaimana kita lakukan selanjutnya.

    Awalnya membingungkan disaat lo harus mengelompokkan mana yang telah dilakukan oleh diri sendiri secara benar dan mana yang dilakukan oleh diri sendiri secara salah. Hasil pengelompokkan perilaku gue itu hasilnya sieh lumayan lebih banyak yang benar tetapi itu masih dalam konteks yang utama belum lebih mendetail lagi apakah benar-benar dilakukan secara benar? hehehe...klo melakukannya sedetail itu gue yakin juga hasilnya kayaknya dilakukan secara salah @_@

    Tapi hasil tersebut hanya hasil persentase dimana lo berarti masih berada di jalur yang benar (hehehe...tetep menyelamatkan diri) yang terpenting adalah dimana lo harus bisa mengambil keputusan apa aja yang harus lo lakukan setelah muhasabah itu agar diri lo menjadi lebih benar dan baik.

    Hasil muhasabah ini harus dijalani dengan konsisten dalam diri lo tapi agak sulit juga klo memang diri lo belum siap untuk berubah. Muhasabah bikin gue lebih stabil, tenang, dan berserah diri kepada Allah karena memang Allah segala-segalanya atas semuanya termasuk diri gue.

    Muhasabah itu sendiri menghasilkan apa yang harus gue lakukan dikemudian hari, mungkin semua manusia di dunia ini harus melakukannya terlebih dahulu baru merasa hatinya tenang kali ya (hehehe..tetep menurut gue)
    1. Berserah Diri kepada Allah yaitu lo harus yakin sepenuhnya bahwa Allah adalah Maha Penguasa, Maha Melindungi, Maha Segala-galanya atas semuanya dan Allah-Lah Penentu segalanya termasuk diri lo sendiri.
    2. Sabar...kata ini sangat menusuk di hati gue karena ternyata sabar itu gak pernah ada batasannya jadi jangan pernah masukan sabar ke UGD atau ICU bahkan harus di rawat inap segala karena sabar tidak akan pernah sakit ataupun sesak nafas karena sabar adalah perasaan hati yang harus ditanamkan didalam hati dengan sebaik-baiknya, dengan sabar juga hati lo akan menjadi lapang jadi mulai hari ini perbaikilah perasaan sabar lo dengan seluas-luasnya agar hati lo bisa lapang lebih selebar-lebarnya.
    3. Jangan pernah mengeluh!! karena dengan mengeluh semua gak akan selesai, semua gak akan bisa tenang, dan semua tidak akan bisa tentram, yg ada hanya keluhan-keluhan yang tidak berarti yang hanya menambah beban di hati dan menenangkan hati hanya untuk sesaat saja.
    4. Bersyukur...inilah rasa yang setiap manusia harus merasakan dan menikmatinya yaitu rasa bersyukur, perbanyaklah rasa bersyukur ini kepada Allah SWT karena nikmatNYA tidak akan pernah putus kepada kita walaupun sedikitpun.
    5. Koreksi diri, mulai hari ini mungkin yang salah bukan dari orang lain tetapi dari diri kita sendiri, semua kesalahan yang terjadi itu pasti dimulai dari diri lo sendiri jadi jangan pernah menyalahkan orang lain tetapi mulailah mengoreksi diri kita sendiri. (dalam hal ini susah banget kayaknya karena kita selalu beranggapan klo kita yang selalu benar dan berpikiran positif itu adalah hal yang paling susah di diri gue untuk diterapkan karena mungkin dimulai dengan menghilangkan rasa takut yang ada didiri gue tapi tetep harus dicoba untuk bisa berubah menjadi yang paling terbaik.amin... )
    6. Perbaiki amal dan ibadah....ini mungkin gampang2 susah karena memperbaiki amal dan ibadah itu bisa diukur pada saat tingkat keimanan kita tinggi maka amal dan ibadah kita tinggi tetapi di saat tingkat keimanan kita rendah beimbas pula pada amal dan ibadah kita rendah. Dalam memperbaiki amal dan ibadah itu ternyata bukan harus dilihat pada saat kapan tingkat keimanan kita tetapi harus dilihat dari konsistensi kita melakukan amal dan ibadah itu sendiri, jadi mulai hari ini berjanjilah untuk melaksanakan yang memang diwajibkan oleh kita untuk melaksanakannya dengan sekonsistensi mungkin dan lakukan dengan sungguh-sungguh agar mendapat yang paling terbaik dalam amal dan ibadah yang akan kita lakukan.
    7. Terakhir adalah DOA, gue sangat percaya doa karena dengan doa dapat merubah segalanya, jadi mulailah melakukan sesuatu dan mengakhiri segala sesuatunya dengan Doa agar semua yang telah kita lakukan dapat berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil yang paling terbaik. Percayalah Allah Tidak pernah Tertidur dan yakinlah Allah pasti akan mengabulkan Doa yang kita inginkan karena kepada Allahlah kita meminta.
    Gak pernah nyangka tapi kenyataan bahwa emang banyak banget yang harus gue koreksi dalam diri gue sendiri dan semoga muhasabah yang gue lakukan dapat gue laksanakan dengan sebaik-baiknya secara konsisten dan mungkin dapat lebih meningkat dari apa yang gue ingin capai. Amin ^_^


    Jadi yuks kita lakukan muhasabah ^__*

    Jumat, 17 Desember 2010

    Bukan Wahai Allah, Masalahku Sangat Besar Tapi Wahai Masalahku, Allah Maha Besar

    AAAaaaaarrrrrgggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh...............

    Gue pengen teriaaaakkkkkkkkkk...............................

    Perasaan Kesel, Benci, Sebel, Marah semuanya jadi satu..............

    Berasa Sabar dihati udah gak ada, yang ada hanya perasaan kecewa.....

    Gue gak tahu harus apa tapi yang gue tahu hari ini hanya ingin menangis dan menangis....

    hati ini galau gak karuan....

    dan berharap dan selalu berucap, mencoba tenang dan jangan pernah berkata "Wahai Allah, Masalahku Sangat Besar" tapi berusaha terus berkata "Wahai Masalahku, Allah Maha Besar"

    Kamis, 16 Desember 2010

    Mencintai Sejantan 'Ali


    Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
    chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

    Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
    Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
    Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.
    Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
    Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
    Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
    Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
    Maka gadis cilik itu bangkit.
    Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
    Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
    Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
    Mengagumkan!
    ‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.
    Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
    Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
    Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
    Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
    ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
    Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
    Kedudukan di sisi Nabi?
    Abu Bakr lebih utama,
    mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
    namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
    Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
    sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
    Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
    Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
    Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
    Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
    Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
    Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
    ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

    ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
    ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”



    Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
    Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
    Ia adalah keberanian, atau pengorbanan

     







    Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
    Lamaran Abu Bakr ditolak.
    Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
    Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
    Setelah Abu Bakr mundur,
    datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
    seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
    seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
    ’Umar ibn Al Khaththab.
    Ya, Al Faruq,
    sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
    ’Umar memang masuk Islam belakangan,
    sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
    Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
    Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
    Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
    Dan lebih dari itu,
    ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
    ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
    Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.
    Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
    ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
    Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
    Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
    Menanti dan bersembunyi.
    ’Umar telah berangkat sebelumnya.
    Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
    ”Wahai Quraisy”, katanya.
    ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
    Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
    ’Umar adalah lelaki pemberani.
    ’Ali, sekali lagi sadar.
    Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
    Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
    ’Umar jauh lebih layak.
    Dan ’Ali ridha.




    Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
    Ia mengambil kesempatan.
    Itulah keberanian.
    Atau mempersilakan.
    Yang ini pengorbanan.





    Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
    Lamaran ’Umar juga ditolak.
    Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
    Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
    Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
    Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
    Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
    Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
    Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
    Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
    ”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
    ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
    ”Aku?”, tanyanya tak yakin.
    ”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
    ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
    ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
    ’Ali pun menghadap Sang Nabi.
    Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
    Ya, menikahi.
    Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
    Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
    Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
    Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
    Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
    ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
    Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
    Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
    Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.
    Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
    Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
    Dan ia pun bingung.
    Apa maksudnya?
    Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
    Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
    Mungkin tidak sekarang.
    Tapi ia siap ditolak.
    Itu resiko.
    Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
    Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
    Ah, itu menyakitkan.
    ”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
    ”Entahlah..”
    ”Apa maksudmu?”
    ”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
    ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
    ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
    Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”
    Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
    Dengan menggadaikan baju besinya.
    Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
    Itu hutang.
    Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
    Dengan keberanian untuk menikah.
    Sekarang.
    Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
    ’Ali adalah gentleman sejati.
    Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
    “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
    Inilah jalan cinta para pejuang.
    Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
    Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
    Seperti ’Ali.
    Ia mempersilakan.
    Atau mengambil kesempatan.
    Yang pertama adalah pengorbanan.
    Yang kedua adalah keberanian.
    Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,
    dalam suatu riwayat dikisahkan
    bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)
    Fathimah berkata kepada ‘Ali,
    “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
    ‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
    Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

     


    Subhanallah..kisah yang begitu romantis..ingin bisa mendapatkan sosok seperti Ali..a..min...Tentunya belajar dulu untuk menjadi seperti Fatimah...perbaiki dululah akhlakmu...( Renungan Pribadi)